Kamis, 15 Mei 2008

Bismillah Ya Allah Aku Akan Menikah

Demi menggapai cinta-Mu Ya Robb
Kusiapkan untuk menggenapkan setengah dien-Mu
Demi menggapai ridho-Mu Ya Robb
Kutinggalkan cintanya
Ku berharap Engkau senantiasa mengampuni hamba Ya Allah
Meridhoi dan membimbing langkah hamba
Amin

Cintaku . . .
Maafkan karena aku meninggalkanmu
Maafkan karena aku tak bisa menantimu
Bukan karena aku tidak mencintaimu
Bukan berarti aku tak menyayangimu

Sekali lagi bukan itu
Aku ingin lebih menggapai cinta-Nya
Aku ingin lebih memelihara kesucian dan kehormatanku
Aku tak ingin setiap hari berbuat dosa dengan memikirkanmu
Merindukanmu
Membayangkanmu
Padahal kau belum halal bagiku

Cintaku . . .
Kuharapkan doa'mu
Ikhlaskan aku
Untuk mengarungi bantera ini
Dengan selain dirimu

Ku do'akan kau juga akan segera menemukan penggantiku
Yang bisa menenteramkan jiwamu
Yang menjadi pelabuhan terakhirmu
Dan terima kasih untuk semua cinta, sayang dan semua yang telah kau berikan padaku

Mungkin hanya ini yang bisa ku tulis
Dengan keikhlasanmu Bismillah aku akan menikah.

Kamis, 24 April 2008

When You're Falling In Love

Apa sih yang terjadi kalo kamu jatuh cinta ?

Asal tahu aja , cinta itu betrasal dari reaksi
kimiawi, dopamine dan norepineprine, menghasilkan PEA,
phenilethilamine. It,s why your knee goes weak, your
palm sweats, your stomach does flip flops.

Parah en norak abis kan akibat yang
ditimbulkan dari perasaan jatuh cinta? Sampai lutut
terasa lemas, telapak tangan berkeringat, dan perut
terasa diaduk-aduk ketika kamu bersama si jantung
hati?

Beban perasaan yang tak tertahankan itu yang
sering membuat anak-anak muda, dan orang yang jatuh
cinta, cenderung lepas kendali karena gak kuat
membendung berbagai rasa yang'enak-enak tapi tak
enak'. Satu lagi, coba deh kamu pikirin, kira-kira
dalam keadaan dipenuhi reaksi kimiawi tubuh yang
demikian, berapa banyak sih dari kita yang bisa
melihat jernih, dan memutuskan satu tindakan dengan
obyektif dan matang?

Rule number one : Jangan percaya dengan
kuputasan/tindakanmu ketika jatuh cinta!
Lebih baik nanya deh sama orang-orang
terdekat, ortu, sahabat, guru atau sosok yang
menurutmu bisa enak diajak curhat dan sejauh yang kamu
kenal, bisa memberikan pertimbangan yang baik, Sebab
orang yang jatuh cinta biasanya bersikap membabi buta.

Beneran gak sih jatuh cinta?

Nah, ini dia juga harus kamu tanya bener-bener
dalam hati. Ketika kau 'fallen' seberapa sih kamu
yakin en mantaps (bener-bener mantap gitu) bahwa kamu
sungguh jatuh cinta sejati? Bukan sekedar suka atau
simpati atau kagum sesaat belaka? Bukan
cinta.monyet!???

Jeleknya, banyak yang tertipu dengan perasaan
cinta. Ketika itu terjadi, mereka mikir, mereka dah
jatuh cinta, mentok abis. Artinya gak bisa berpaling
ke lain hati (ceile.). Orang-orang yang jatuh cinta
bilang, entahlah apa yang terjadi kalo mereka sampe
kehilangan pasangan yang mereka cintai.

"Kalo gue sampe putus sama dia, gue mungkin
gak akan bisa makan seminggu!'
"Gue sih gak bakalan bisa tidur. Pasti tiap
malam selama tujuh bulan nangis habis2an, dan bikin
pulau sebanyak-banyaknya di bantal."

"Nnng. kalo aku rasanya gak bakalan pernah
jatuh cinta lagi sama siapapun. She is the only one I
love!"
Yang lebih drastis mungkin berkata nekad: "Gue
bisa-bisa bunuh diri! Paling sedikit jadi gila!"
Lucunya, ketika kemudia mereka putus dengan
pacarnya, banyak yang dua hari kemudian udah jatuh
cinta lagi, kali ini lebih dahsyat! Tidak ada air mata
(kalopun ada sehari dua aja), gak ada yang mogok makan
berminggu-minggu, menjadi gila ataupun bunuh diri.
Meskipun untuk yang terakhir bukan tidak pernah
terjadi, ada, namun lebih banyak yang survive dari
patah hati. Dan kemudian jatuh cinta lagi, lagi,
lagi.dan lagi.

Bahkan ada yang ketika kesedihan meredup
(putus atau cinta bertepuk sebelah tangan), bisa
dengan terheran-heran dan geleng-geleng kepala,
nomong: "Kok gue bisa jatuh cinta sama dia? Masa gue
jatuh cinta sama cowokl yang naik kelas aja engga?!"

Rule number two: Jangan cepat percaya kalau
dialah cintamu yang sejati!

Dua orang pacaran, kamu cinta mati, dia gimana.?

Banyak banget berita di Koran tentan cowok
yang melakukan tindak kriminal terhadap pacar atau
tunangannya sendiri. Ini serius! Kamu mungkin
bertanya-tanya dalam hati dan gak yakin, gimana bisa
orang yang jatuh cinta menyakiti orang yang dicintai
orang yang dicintai? Dan bahkan bukan karena diancam
putus?

Tapi fakta membuktikan banyak banget kasus
kejahatan yang menimpa mereka yang pacaran, dan
dilakukan oleh pasangannya.

- Ada yang dibunuh dan disimpan di lemari kamar
kost pacarnya hingga berbulan2, baru mayatnya
ditemukan keluarganya.

- Ada yang menolak diajak hubungan intim,
kemudia dianiaya, hingga cacat permanen, nyaris semua
bagian tubuhnya menciut, dan sampai sekarang hanya
bisa terbaring di tempat tidur. Menjadi beban bagi
keluarga, padahal dia adalah anak sulung yang dulunya
menjadi tumpuan harapan keluarga.

- Yang diperkosa, atau kemudian hamil akibat
hubungan intim, dan ditinggal kabur, apalagi. Jumlah
kasusnya gak terhitung.

Kejadian-kejadian di atas sebetulnya membuktikan satu
hal: Orang yang melakukan tidak sungguh-sunguh
mencintai. Betapapun kelihatannya sangat mencintai,
penuh kasih sayang, penuh perhatian. No way! Orang
yang mencintai, tidak akan mungkin menyakiti.

Rule number three : He may not love you the may he
seems. Jangan percaya dia mencibntai kamu
sungguh-sungguh, betapapun kelihatannya!

Jatuh Cinta, Untuk Apa?

Suatu hari kamu mungkin bertemu cowok atau
cewek yang begitu menarik dan membuatmu jatuh cinta.
Dia mungkin mencintaimu. Mungkin tidak. Kalu tidak,
maka bersyukurlah karena sebetulnya bertepuk sebelah
tangan tidak seburuk kelihatannya, seringkali justru
itu menyelamatkanmu dari harl-hal buruk yang mungkin
saja terjadi.

Ingat, sebagati manusia, seringkali kita
terkecoh dengan penilaian kita yang memang hanya
menilai berdasarkan tampak luar saja. Serahkan pada
Allah, kalau memang Dia tidak mengizinkan barangkali
karena memang sosok tersebut tidak baik untuk kamu.
Oke?

Kalau dia mencintaimu juga, gimana?
Well, kamu bisa mengajukan pertanyaan ini pada
dirimu sendiri, "Jatuh cinta, dicintai, untuk apa?"
Jika hanya untuk pacaran, sebandingkah
perasaan bahagia yang sesaat dengan resiko yang
mungkin terjadi? Dunia super duper indah yang
digembargemborkan banyak media kita, dan melenakan,
sebetulnya hanya dunia palsu dimana dua orang berusaha
tampil sebagus mungkin di hadapan pacarnya!

Ingat baik-baik, doi mungkin tidak sebaik
kelihatannya! Hanya Allah yang Maha Melihat, dan Maha
tahu!
Lagian, ngapain juga pacaran?
Apa sebagai sandaran agar semangat belajar?
Begitu tidak ada artinyakah nilai kuliah, yang
dibiayai susah payah oleh ortu, sehingga pantas
dipertaruhkan di pundak pacar kita?

Pacaran untuk saling kenal? Terus kalo udah
kenal mau apa? Wayyo!
Pacaran untuk penghematan, biar kemana-mana
ada yang ngantarin? Wah, fungsi pacar yang begini mah,
bisa diganti sama tukang ojek! Hehe.

Anyway, Rule number four : Keep asking your
heart, pacaran untuk tujuan apa? Betulkah seperlu itu
dan berbagai proyek hidup kita akan hancur kalau tidak
melakukannya?

Kecuali kamu sudah dalam usia siap menikah,
dan merencanakan untuk menikah. Tapi kalau memang
begitu, ngapain juga pacaran? Mendingan merit! Ya gak
seh?

Not ready yet?

Naksir berat, pengen nikah tapi belum kerja? Atau
belum kelar kuliah? Atau belum siap?
Sebetulnya untuk nikah, barangkali gak ada orang yang
benar-benar siap ketika hari H (Heboh) itu tiba.
Adanya pekerjaan, kuliah selesai juga tidak menjamin
kebahagiaan sebuah pernikahan. Tapi dengan niat yang
teguh kukuh berlapis baja, insya allah semua tantangan
pernikahan bisa kamu hadapi.

Tapi kalo memang bener-bener belum mantap gimana dong?
Ya, kasiaaaaaaaan deh kalo gitu, hehe.
If u r not ready yet, berarti gak ada pilihan. Hidupin
puasa senin kemis, sibukin diri sama berbagai
kegiatan. Bohong besar kalimat yang mengatakan muda
foya-foya tua kaya raya mati masuk surga. Jadi isi
masa muda dan pranikahmu dengan mencetak karya
sebanyak-banyaknya, gali potensi. Bikin bangga ortu,
dan calon istri serta calon mertua di masa depan
(bukan yang ditek-in dari sekarang lho!), sekaligus
jadi kebanggaan umat Muhammad!

Atau pendeknya, Rule number five: Isi hidup pranikah
dengan karya! Jadi jika takdir ternyata mengatakan
kita gak keburu nikah, karena umur pendek, at least
kita siap menghadap-Nya! (bukan nakut2in, tapi yang
namanya mati kan satu-satunya kepastian dalam hidup
kita, setuju ya?)

Apalagi?
Rule number six: Kenakan masker takwa untuk virus
merah jambu. Berlaku pada semua panca indera dan jiwa.
Hingga saat indah itu, mudah-mudahan Allah menjagamu,
tetap suci, terhormat, dan indah. Amin

Pengharapan

Setelah kamu memberi banyak
PENGHARAPAN
kepada seseorang...
Setelah ia mulai MENYAYANGIMU hendaklah
kamu MENJAGA hatinya....
Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja....
Karena dia akan TERLUKA oleh kenangan bersamamu
dan mungkin TIDAK dapat
MELUPAKAN segalanya selagi dia mengingatmu....

Jika kamu memiliki seseorang,
TERIMALAH seadanya....
Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan
janganlah kamu menganggapnya begitu istimewa....
Anggaplah dia manusia biasa.
Apabila sekali dia melakukan KEKHILAFAN tidak mudah
mudah bagi kamu untuk
menerimanya.... akhirnya kamu KECEWA dan meninggalkannya.
Sedangkan jika kamu MEMAAFKANNYA boleh jadi
hubungan kamu akan TERUS hingga ke akhirnya....

Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan.....
yang pasti membawa KEBAIKAN kepada dirimu.
Menyayangimu. Mengasihimu.
Mengapa kamu berlengah, coba
MEMBANDINGKANNYA dengan yang lain.
Terlalu mengejar kesempurnaan.
Kelak, kamu akan KEHILANGANNYA??..

apabila dia menjadi milik orang lain
Kamu juga yang akan MENYESAL....

Jumat, 28 Maret 2008

Untuk Seseorang

Mungkin setitik keraguan itu mulai hadir
Setetes kegalauan itu mulai ada
Ia yang seperti awan
Datang dan pergi tak menentu
Kadang ia datang
Disaat aku tak membutuhkan
Dan pergi disaat aku sangat membutuhkan

Aku sudah berusaha mengakhirinya
Tapi selalu tak pernah berakhir
Karena ia selalu mendekat
Disaat aku berusaha menjauh
Dan ia menjauh disaat aku berusaha mendekat
Aku tidak tahu
Apakah aku yang kurang memahaminya
Ataukah justru dia yang tidak memahamiku

Aku lelah Ya Allah
Aku kecewa padanya
Sebagaimana mungkin Engkau telah kecewa padaku
Karena kulabuhkan rasaku pada tempat yang tidak semestinya
Karena aku tidak memakai jalan yang Kau ridhoi
Karena telah kutitipkan usia remajaku pada sia-sia

Ya Allah ...
JIka kekecewaan ini dapat membuat-Mu kembali mencintaiku
Aku rela Ya Allah
Jika sakit ini dapat kembali menerangi gelap jalanku
Aku ikhlas Ya Allah
Karena kecewa dan sakit ini tak sesakit bila kehilangan cinta-Mu
Tak sepahit bila kehilangan kasih-Mu
Asal Engkau selalu meridhoi setiap tarikan nafasku
Dan tidak melepaskan aku dari genggaman-Mu
Itu sudah cukup membahagiakanku

Biarlah kutitipkan rasa cinta ini pada-Mu Ya Allah
Karena aku terlalu lemah untuk menanggungnya
JIka ia memang telah kau ciptakan untukku
Kirimkanlah ia dengan ridho-Mu
Satukanlah kami dalam ikatan suci-Mu
Engkaulah yang maha mengetahui
Yang terbaik untuk hamba-Mu yang hina dan daif ini

BETAPA INGINNYA AKU MENCINTAIMU

(Bagi Yang Mencari dan Belum menemukan Dimana Cinta Itu)

Medio Juli 2001

Tidak ada bulan madu, menurutku semua hanya perjalanan kodrati tanpa kekuatan cinta. Expresi tanpa nyawa dari kebutuhan mendasar manusia. Juga tidak ada keterikatan, buatku. Hanya sebuah tanggung jawab dari sebentuk janji yang sekuat janji para nabi. Sungguh. Juga penghambaan pada-Nya, yang telah menggariskan pertemuan ini. Meski masih sering muncul Tanya, mengapa laki-laki ini yang Ia kirimkan? Apa istimewanya? Tapi aku tidak berani kurang ajar dengan berlaku seenaknya. Suami adalah qowwam. Bahkan dengan predikat itu, ia telah dengan sukses mengkudeta kedudukan orang-orang terdekatku. Ayah, Ibu, Adik… juga sahabat. Terlebih ketika aku telah jauh dari mereka. Ribuan kilo jaraknya. Ah. Tadinya kupikir cinta dan rindu akan datang begitu saja, saat aku telah resmi menjadi istrinya. Ternyata ? Benar kata orang jawa, witing tresno jalaran saka kulina, tumbuhnya cinta karena telah terbiasa. Dan dia? Bahkan aku masih merasakan asing dan jauh. Bisakah waktu menyelesaikan semuanya? Semoga. Bukankah Allah yang menjanjikan cinta itu? Waja’alnaa bainakum mawaddataw wa rohmah. Tapi setahuku tidak begitu saja dikaruniakan, tetap ada sebuah upaya kemanusiaan untuk menggapainya. Terlebih kami menikah dengan semangat dakwah. Bukan menuruti emosional atau sekedar selera manusia. Maka aku yakin, janji Allah akan kami temui.

Akhir juli 2001
Robbi . . . masih jauhkan perjalanan mencari cinta itu? Sudah dua bulan kusandang predikat sebagai istri. Aku memang selalu menyambutnya dengan senyum, bahkan berdandan rapi, wangi. Aku juga menyiapakan makan, menemaninya ngobrol meski Cuma sebentar (karena ia begitu sibuk diluar), me . . ., ah. Tanpa getar, sebatas memenuhi kewajiban, itu saja. Sebuah kisah dimasa khalifah Umar, memenuhi kepalaku. Kisah seorang laki-laki yang akan menceraikan istrinya, karena sudah tidak mencintainya lagi. Apa kata khalifah Umar? Haruskah rumah tangga selalu ditegakkan dengan cinta? Tidak cukupkah dengan tanjung jawab saja? Tanggungjawab. Ya, kata-kata itu yang selalu kupompakan saat hati mulai gundah. Bagaimanapun aku tetap butuh cinta. Sebuah kekuatan lain yang akan membuatku makin ikhlas berlaku padanya. Bagaimana? Aku hanya manusia biasa. Sangat biasa.


Kadang aku bertanya, apakah ia juga gelisah mencari cinta sepertiku? Entahlah. Aku tidak berani menebak. Aku takut bila kemudian tahu, iapun belum mencintaiku. Lebih dari seharian ia tidak bersamaku. Kerja, rapat, silaturahmi. Brrr, aku? New comer yang tidak tahu
medan, tidak punya teman, belum ada kegiatan. Bisa apa? Aku hanya pergi kalu suamiku mengajakku pergi. Selebihnya aku hanya dirumah berteman buku. Sendiri. Sepi.

Rindunya aku pada keluargaku. Pada teman-teman dekatku. Pada daerah asalku. Mengapa setelah aku jauh, rindu itu begtu mudah hadir dan memaksa air mataku mengalir. Mengapa setelah aku menjadi “milik” orang lain, cintaku pada teman-teman semakin dalam terukir? Ataukah, . . . karena sampai saat ini, aku tetap belum berhasil mencintainya? Ah, terlalu jauh. Bahkan merasa dekatpun belum juga. Sebuah perasaan, yang sering membuatku menangis, tanpa bisa mengatakan apa-apa kepadanya. Aku tahu, ia kecewa saat dalam tangisku itu aku tetap diam seribu kata. Tapi bagaimana lagi? Sebutan suami belum cukup bagiku untuk seketika berbagi. Hatiku jeri, ternyata wanita bukan hanya butuh dicintai tapi juga mencintai. Itulah yang sekarang kupahami.

Aku merasa diproteksi. Aksesku dengan teman-temanku dulu, terlebih yang putra dibatasi. Meski sekedar email atau sms. Teganya. Cinta itu semakin jauh. Salah. Sungguh salah kalau ia pikir, aku bisa mencintainya setelah mereka jauh dari kehidupanku. Cinta seorang perempuan, lahir karena kedekatan perasaan. Dan dia, suamiku belum melewati fase itu. Bagiku.

Awal Agustus 2001
Aku hamil! Alhamdulillah yang terlantun dari bibirku, terasa gamang dihentak perasaan. Suamiku gembira. Aku? Entahlah. Satu amanah lagi bertambah, sedangkan amanah yang lain belum juga tertunaikan dengan baik. Aku tentu saja ingin hamil dan punya anak. Bukankah salah satu tujuan menikah adalah melahirkan generasi baru yang akan menambah bobot bumi dengan kalimah-Nya? Hanya saja… saat aku masih tersengal-sengal membersemainya, saat aku tetap geragaban meraba cinta untuknya, kehadiran makhluk dirahimku itu sungguh membebaniku. Ibu hamil membutuhkan dukungan dan bantuan fisik-psikis yang besar. Terlebih anak pertama. Lalu, bisakah aku mengharapkan tangannya? Sanggupkah mulutku berkata? Aku tetap belum merasa dekat, apalagi mencintainya!

Oktober 2001
Trisemester pertama yang begitu berat. Oh, pantaslah islam begitu memuliakan seorang ibu. Badanku kurus, nyaris tidak ada makanan yang bisa masuk. Sendirian kutanggung semuanya. Ia begitu sibuk. Berangkat kerja pagi-pagi, dan selalu pulang kerumah diatas jam sepuluh malam. Satu yang menghiburku, teman-teman baru. Akhwat yang seolah kakak dan adik buatku. Merekalah tempatku mengadu. Mengingatkanku pada masa-masa lajang dulu. Membuatku betah berlama-lama, bahkan enggan pulang untuk melihat kenyataan diriku. Seorang calon ibu dengan calon ayah disisiku.

Awal November 2001
Cintaaaaa…dimanakah engkau ?! Telah setengah tahun laki-laki itu menjadi suami. Mengapa engkau tetap bersembunyi? Seorang seniorku mengatakan, bahkan ada yang sudah menikah bertahun-tahun tetap belum bisa mencintai pasangannya. Tidak, Ya Allah. Aku tidak mau menunggu selama itu. Bila ibadah seorang hamba akan lebih bermakna dengan kekuatan cinta, apalagi hubungan antar manusia? Wahai, segala sumber cinta, bukakankah hatiku untuknya. Binarkanlah mataku akan kelebihannya, lapangkanlah dadaku akan kekurangannya, bila itu menjadi gerbang akan hadirnya sebuah rasa yang membuatku dekat padanya. CINTA.

Akhir November 2001
Masih belum banyak berubah, cinta yang kucari belum kutemukan. Buktinya, aku tidak merasa sepi ketika ditinggalkan. Kedatangannya bukan bermakna penantian. Meski sikapku tidak banyak berubah dalam hal pelayanan, lagi-lagi tanggung jawab dan penghambaan pada-Nya yang kujadikan sandaran. Sandaran yang kerap limbung ketika hatiku linglung. Yang kadang berderak saat imanku turun. Lalu, malam-malam dan dhuha, lembar-lembar mushaf dan do’a, menjadi suplai energi yang membuatku tidak ingin rugi dengan harga setengah dien ini. Inilah perjalanan terberatku. Mencari Cinta

Akhir tahun 2001
Aku tergugu. Ya Allah, benarkah? Suamiku, benarkah engkau melihatku belum ikhlas menerimamu? Ah, tidak. Bukan itu. Aku tidak berharap apapun darimu. Tidak fisik, harta, ataupun nasab. Aku hanya percaya, engkaulah yang terbaik untukku dari-Nya. Hanya… kalau aku perlu waktu untuk menerima, bukankah itu wajar saja? Aku pernah punya idealita, sebelum menemuimu sebagai realita. Aku pernah menyimpan sekian criteria, sebelum akhirnya aku sadar, bahwa Allah lebih tau segalanya. Aku manusia biasa yang tetap melewati sebuah proses menuju kesempurnaan, yang meski aku tahu tidak akan pernah kudapatkan. Aku ikhlas menerimamu. Aku hanya butuh waktu untuk mencintaimu. Aku tetap pada keyakinanku. Sebuah rumah tangga dakwah tidak hnya butuh sense ibadah. Bukan hanya berdasar kekuatan ruhaniah. Tidak melulu dikompori semangat harakiyah. Ia tetap butuh fitrah mendasar yang menjadi kekuatan hubungan laki-laki dan perempuan. CINTA.

Awal tahun 2002
Barangkali putik cinta itu mulai muncul. Mungkin simpati? kagum? Salut? Whatever. Ia yang begitu gigih membantuku membangun eksistensi dimedan baru. Mengurus organisasi, menyimpan arsip dan data dengan rapi, menemani ketika aku harus loby ke sana-sini, meski aku tahu ia sibuk sekali. Begitu juga dengan persiapan menyambut si kecil. Mungkinkah...ia telah terlebih dahulu menemukan cinta? Ah. Berbahagialah dia, dan aku tentu saja. Aku berharap, tak lama lagi aku akan menyusulnya. Aku tidak ingin membiarkan tepukan tangan itu kosong tanpa suara. Aku juga tidak ingin kembang itu layu sebelum waktunya. Kembang itu ingin kurawat, kujaga agar mekarnya mempesona dan wanginya menebar kemana-mana. Kembang cinta.

Medio Februari 2002
Duniaku sekarang hanya rumah dan klinik. Kegiatan stop. Waktu yang bagus untuk berinteraksi dengan sikecil. Ah, anakku. Betapapun aku masih belajar untuk menerimamu, namun tidak sesulit belajar mencintai ayahmu. Ia orang lain. Hadir tiba-tiba dengan segala apa yang ada padanya. Berkuasa, nyaris tanpa batas. Bagaimana aku tidak tergagap-gagap menemaninya? Bagaimana langkahku tidak tersaruk disisinya?

Sedangkan engkau…engkau adalah bagian daging dan darahku. Separuh nafasku, terhembus padamu. Bahkan satu nyawaku, kubagi denganmu. Aku begitu yakin, cintaku padamu akan hadir memenuhi dada dan sudut hati, tanpa harus melewati waktu panjang yang terkadang serasa tanpa tepi.

Maret 2002
Anakku! Oh, sungguh lain kata-kata itu. Begitu menggetarkan. Mendebarkan. Aku ingin selalu bersamamu. Aku tidak ingin melihat selain kebahagiaan dan kegembiran. Aku ingin berbuat apa saja, memberi apa saja yang kupunya untukmu. Aku…seribu rasa meluap didada. Sejuta asa menggelora dijiwa. Ah, engkaulah sebaik-baik manusia yang kulihat didunia. Ya, Allah…inikah cinta itu? betapa dahsyatnya. Betapa kuatnya. Lalu cinta yang lain…untuknya? aku nyaris lupa.

Awal April 2002
Inilah rindu itu. Anakku dirawat dirumah sakit. Tidak parah memang. Empat hari dia disana, tapi aku merasa hampir gila. Malam pertama, berpisah dengannya, mataku tidak mau terpejam. Mengalirkan air mata dengan suksesnya. Begitu juga saat aku menatap pakaiannya, mencium baunya, bahkan ketika ingat jadwal mandi serta minum ASI-nya. Jiwaku terbelah. Hatiku tercacah. Meski setiap hari aku menengoknya, menempuh jarak dan menerabas aral, tetap saja rindu itu mencengkeram kuat. Bahkan semakin kuat usai berjumpa. Duhai! Inilah sebenar-benar rindu. Bukan sekedar kangen dan rasa igin bertemu. Tetapi, rasa yang mampu menghilangkan separuh nyawa hidupmu atau justru memberikan suplai energi padamu.

Akhir April 2002
Akhirnya. Kutemukan juga cinta itu. Pada seorang laki-laki yang baru dua bulan lalu hadir dalam kehidupanku. Tetapi laki-laki itu memang istimewa. Ia sanggup menguatkanku. Ia bisa menghiburku. Ia terkadang menjengkelkan tetapi selalu cepat aku memaafkan. Ia…yang kini mengasai hati dan pikiran, menyedot hamper seluruh perhatian, bahkan mungkin meraup habis persediaan cinta yang berusaha kusisakan. Aku tidak kuasa menahan. Aku angkat tangan. Suamiku? Yah, aku hanya bisa berharap, kekuatan cintaku pada laki-laki baru itu, akan mampu memancing cintaku padanya. Itu saja.

Aku teringat percakapanku dengan seorang sahabat, sebelum aku menikah.
“ Seperti apa cinta itu menurutmu?” Ia bertanya serius padaku. Aku tercenung.
“Cinta ? Bagiku ? Mudah. Seberapa ia memberi, sebanyak itu ia menerima. Take and give.” Jawabku pasti. Temanku menggeleng, kecut,.
“Cintamu matematis” Bahkan menurutku itu bukan cinta, Lalu kalau sudah tidak ada yang bisa kamu ambil, tidak ada lagi yang kamu terima, cinta itupun hilang begitu saja ?” temanku masih mengejar. Aku mengangguk. “ Tentu. Cinta sudah tidak punya kekuatan. Hampa.” Ujarku.
“Ck. Sungguh, menurutku itu bukan cinta. Cinta hanya kenal kata give. Tidak lain”.
“Itu tidak mungkin!” Sergahku cepat.
"Baiklah. Aku yakin, suatu saat kamu akan menemukan cinta itu. Mungkin terhadap suamimu. Oh, belum tentu. Mungkin tidak. Aku yakin, kamu akan mengerti cinta yang sebenarnya pada anakmu. Ya. Anakmu”.
Temanku betul ternyata. Laki-laki baru itu, yang mengajarkan aku cinta, anakku.

Mei 2002
Sudahlah. Aku sudah mulai lelah. Sudah setahun aku menikah, dan cinta itu masih tetap kabur. Aku menyerah pada waktu. Aku pasrah pada kepastian dan keyakinan akan doa-doaku. Barangkali memang jawaban itu akan datang, kelak. Biarlah apa yang sekarang ada kunikmati dan kuhayati. CINTA, aku tetap setia menanti, tetapi sampai kapan. Ya Allah…kuatkan hamba.

Awal juli 2002
Keberadaan seseorang, baru terasakan saat ketiadaannya. Akan kucoba. Aku pulang kerumah dan tinggal disana. Satu minggu. Suamiku semula keberatan. Tetapi akhirnya mengijinkan. Yah, dengan sedikit rengekan dan tentu saja…rayuan. Ia menemaniku dua hari dua malam. Sebelum kembali ke kontrakan. Cinta memang perlu pembuktian. Hari-hari berlalu… nyatanya? Aku justru berat meninggalkan rumah! Aku masih ingin rersama ibu dan ayah. Suamiku! Dimana dirimu? Kemanakah rinduku?! Aku tergugu. Betapa pedih kurasakan, aku enggan kembali ke kontrakan.

Agustus 2002
“Cintakah kau padaku?” aku bertanya pada suamiku, suatu ketika.
“Cinta. Buktinya, kutinggalkan semua demi mendapatkanmu.” Jawabnya.
“Aku kangen sekali…” katanya ketika pertamakali berpisah.
“Kalau kau tak ada disisiku, aku tidak bersemangat. Malas. Bahkan pulang ke kontrakan ini pun enggan. Makanya jangan nginap lama-lama ya. Dua hari saja. Dan jangan sering-sering.” Ucapnya, ketika lagi-lagi aku menginap di rumah ibu.

Suamiku bukan tipe romantis dan perayu, Dulu, bahkan menurutku ia sangat kaku. Lalu apa arti semua itu? Darimana ia belajar? Cinta? Aku tersenyum, getir. Ia begitu cepat belajar. Ia begitu mudah menemukan. Ia juga begitu gampang membuktikan. Sedang aku?

Mungkin yang sekarang muncul adalah suatu bentuk keprihatinan. Bahwa ternyata, aku masih tertatih mencari cinta. Tetapi aku yakin, suatu ketika aku akan menemukannya. Cinta yang membangkitkan rindu, berhias rasa cemburu, dan berbalur keinginan untuk memberi tanpa mengharap sesuatu. Cinta sejati. Dan aku tahu, kemana aku harus mencari. Allahurrakhmanurrakhim, ya, kesitulah aku menuju.

Agustus 2002
Kupandangi sosok yang tengah lelap di sisiku. Tiba-tiba aku igin menciumnya, haru. (Yogya, Maret 2008 ( Dari Cerpen Nurul F Huda dengan sedikit revisi )

Senin, 24 Maret 2008

Ya Allah

Ya Allah
Mengapa akhir-akhir ini hamba merasa dikecewakan
Oleh orang-orang yang hamba sayangi.
Hingga membuat hamba cepat emosi dan naik darah
Ya Allah
Ampuni hamba, karena hamba masih jauh dari kata taqwa
Ampuni hamba bila hati hamba belum tergetar ketika kusebut Asma-Mu
Ya Allah
Hamba sadar, hamba masih jauh dari kata sabar
Untuk itu karuniakan kesabaran pada hamba
Hamba tahu, hamba masih jauh dari kata ikhlas
Untuk itu berikanlah rasa keikhlasan pada hamba Ya Allah
Untuk memahami mereka
Untuk mengerti mereka
Menerima kelebihan dan kekurangan mereka
Apalah artinya hamba tanpa Engkau Ya Allah
Tanpa-Mu siapa diriku?
Dimanapun diri ini rasanya selalu salah
Memakai hari ini untuk menghapus hari kemarin
Ya Allah,
Hamba mengerti, hamba masih jauh dari kata hamba-Mu yg baik
Hamba masih sering mengecewakan Engkau
Hamba masih sering mengecewakan orang-orang yang menyayangi hamba
Hamba masih sering mempertuhankan hawa nafsu hamba
Ya Allah, janganlah membenci hamba
Atas segala kekurangan hamba
Janganlah mengazab hamba atas dosa-dosa hamba
Maka dari itu Ya Allah
Janganlah lelah membimbing hamba
Agar hamba tak tersesat dari jalan-Mu
Berikanlah ridho dan ampunan-Mu
Amin, Ya Rabb'al 'alamin

Jumat, 21 Maret 2008

HIJRAH

Telah kuputuskan untuk selalu taat
Hanya satu kepada Allah
Bukan kepada dunia yang membuatku lupa
Dan terjerat nafsu durjana
Sungguh aku ingin masuk surga
Jadi aku ingin insaf

Lalu akupun berubah dan tinggalkan
Masa laluku yang gulita
Berpakaian islami, walau mama melarang
Sungguh aku ingin masuk surga
Jadi aku ingin insaf